Be the Adventurer

 


Ketika matahari mulai redup,

Bulan mulai tampak,

Bintang tak kalah jua waktunya bersinar terang,

Kunang-kunang mulai bergerak,

Lampu jalan mulai memperlihatkan terangnya,


Setelah beberapa waktu berjalan,

Terasa cukup cepat dan juga lambat,

Aku hanya ingin bertutur kata kembali,

Menggores tinta pada platform kecil yang aku punya ini,


Haha, untung aku tidak lupa!

Aku masih punya ini,

Beberapa tulisan-tulisanku yang sedikit puitis dengan sajak alakadarku,

Kubuat indah untuk menggugah rasa elok membacaku sendiri, hehe


Disini, aku merasa nyaman,

Senang, bahagia, entah kenapa

Rasanya seperti menjadi hidup kembali,

Setelah beberapa paruh waktu ini,

Kugunakan waktu demi waktuku untuk mengejar sebuah bentuk kata kerja sarat makna,

Yang mungkin dalam jangka panjang akan mempengaruhi kehidupanku,

Entah sampai kapan,

Akupun tidak tahu?


Lelah, jenuh pasti akan tumbuh,

Tapi, bukankah aku harus lebih tumbuh lebih besar darinya?

Hingga sesuatu hal itu tidak menggoyahkanku,

Pada pilihan satu jalan yang kubuat,

Kugali ia hingga terbentuk cukup jelas,

dari masa demi masa,

Sedikit demi sedikit namun tak henti,

Aku terus melangkah--


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Melangkahkan kaki di sebuah babak baru mengajarkanku begitu banyak hal. Sejatinya, tiap-tiap momentum mengajarkanku banyak hal. Meskipun hal itu adalah yang diinginkan dan sekalipun tidak. Semuanya membuatku belajar banyak hal, dan tidak pernah ada rasa sesalpun sudah menerimanya, sudah menjalaninya semampu yang aku sendiri bisa. 

Segala pilihan yang dibuat setidaknya berangkat dari satu titik pertimbangan yang cepat atau lambat, tetapi setidaknya aku berpikir untuk tiap langkah kaki yang ku putuskan. Ku bebaskan otakku untuk memilih hal yang ingin ku capai, ku kejar, meski rasa tertatih-tatih itu ada. Rasa enggan, rasa lelah ingin berhenti. Tapi mau sampai dimana aku berhenti? istirahat sejenak merupakan pilihan yang terbaik untuk menjalankan hidup yang penuh teka teki baru. 

Seperti pada tokoh "Merida" yang ku letakkan di atas, aku ingin sebebas dirinya, bebas dalam menentukan pilihan, bebas dalam melakukan pada apapun yang ingin aku capai. Pemikiran komparatif semu nan imajinatif tentulah masih menghantuiku. Ia masih menggerogoti pikiranku tanpa ampun hingga sekarang, dengan permulaan kata.. "bagaimana ya.. kalau..?". huhu. 

Kadang hal itu sangat mengusik, aku masih berperang. Ini semua sudah diputuskan dengan berbagai pertimbangan akal sehat. Semua pilihan bermakna. Segala hal baik akan didapatkan hal yang baik pula. Kesemua hal yang sudah dipertemukan untuk bertemu akan bertemu jua. Meski kita mengumpat, menghindar, mencoba hilang.. pada akhirnya akan mengejar dan menemukan kembali titik kita, keberadaan kita. Karena ia begitu melekat, dengan tekat, sangat kuat.

Apa salahnya, apabila aku bercita-cita ingin menjelajahi alam? mencoba menantang tingginya gunung-gunung dengan mendakinya? mencoba menghirup dan menghembuskan napasku dengan bentang alam yang sangat hijau muaranya? apa salahnya apabila aku bercita-cita ingin berbaring di tanah rumput yang begitu lapang pada gelapnya malam, ketika bintang menunjukkan performa terbaik cahayanya secara tersebar?. Ku nyatakan bahwa aku, begitu menyukai keindahan. Hal yang secara alami datang untuk menjadi penyemangat bahwa masih banyak hal yang indah di dunia ini, dan didapatkan secara gratis. Kita hanya perlu panca indera untuk merasakannya, dan sedikit lebih "mau".

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti dalam film Brave,

Aku ingin menjadi seperti Merida,

Seorang gadis muda yang berkelana, 

Berpetualang dengan bebas dan gairahnya,

Menjelajahi bentang alam, 

Berbaring di rumput lapang,

Menatap sinar bintang di waktu malam,

Mendaki gunung-gunung tinggi,

Dan menikmati hembusnya angin,

Aku ingin bebas dan bermakna --

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari kesepuluh ketika lentera dinyalakan,

Pukul sepuluh lepas mendekati sebelas, membentang melewati batas.

Komentar