Aku, Februari dan Tuhan

 Hari ini Jumat, 27 Februari 2026.

Ku tulis lembaran baru pada blog ini selesai pulang bekerja. Tanpa Gambar, berbeda dari tulisan-tulisanku sebelumnya. Menandakan aku masih mencari jati diriku. Belum terlambat, kan? :)

Aku sudah merencanakannya sedari pagi ketika ingin berangkat, rencananya aku ingin menuntaskan keinginanku untuk sekedar memberi ruang "berterima kasih" kepada diriku yang sudah melewati 25 tahun ini dengan sedikit banyak penuh makna.

Namun, suasana yang ku alami saat ini tidak begitu baik, jauh dari ekspektasi. Begitu ramai, tak ku sangka. Mungkin karena jamnya buka puasa juga, aku tak mengira, mall ini termasuk mall favorit yang didatangi orang-orang setelah penat melewati hari akhir dalam satu minggu kerja. 

Aku berencana mencari makan terlebih dahulu, karena perutku amat lapar.. berharap ada resto sepi disini, ternyata nihil. Tidak apa-apa. Dan, ku pikir book cafe yang ku datangi ini, yang menjadi core tujuanku, menjual beberapa buah roti, namun ternyata mereka sudah tidak menjualnya. Tidak apa-apa. 

Hari ini aku merasakan lega, dan aku merasa berhak untuk memberikan diriku ruang sejenak untuk lebih mengenal diriku sendiri lagi. Setelah menyelesaikan pekerjaan sesuai yang aku janjikan kepada dept head ku, aku merasa lega. Dan, saat ini aku merasa amat percaya diri untuk menjelajahi mall yang tidak kecil ini, dan tidak peduli dengan pikiran orang-orang yang akan melihatku berjalan dan menikmati kopi butterscotch ini sendirian. Aku rasa mereka tidak peduli, dan mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Dan juga.. ntah kenapa aku merasakan aku tidak iri melihat mereka memiliki teman nongkrong, aku tidak merasakan sedih. Saat ini, aku cukup bahagia. Alhamdulillah.

Tuhan,

Bulan ini cukup berkesan bagiku pribadi. Aku begitu mengagumi bulan ini. Aku tandakan bulan ini sebagai bulan yang "sakral" bagiku pribadi. Sebab Tuhan memperkenankan aku hidup dan lahir ke dunia pada bulan ini, dan mengenalkanku pada macam-macam isi bumi. Aku sangat berterima kasih.

Tuhan,

Dengan umurku yang sudah menginjakkan kaki di muka bumi selama 25 tahun ini, jujur tidak mudah. Aku begitu banyak menerima macam-macam rasa. Bahagia, sedih, marah, kecewa, flat. Aku sadar, ujian tiap-tiap orang berbeda.. dan aku juga sadar, bahwa.. ujianku adalah berhubungan sosial dengan orang lain, atau dalam bahasa gamblangnya adalah "mendapatkan teman"

Tuhan,

Itulah yang aku rasakan saat ini, dan ketika aku mencoba untuk mengingatnya kembali.. sejak aku SMP, SMA dan kuliah... sepertinya diriku sama.. aku tidak begitu pandai bergaul dengan orang.. terlebih orang yang seusiaku.. terlebih apabila mereka pada dasarnya bisa dibilang dengan karakter yang.. "gen z" banget. Ku rasa, aku sepertinya cukup konservatif dan kaku, serta sensitif. Maafkan aku..

Tuhan, 

Itulah yang aku rasakan saat ini. di divisi tempatku bekerja saat ini. Belakangan, aku cukup kesepian.. tapi sekaligus merasa damai.. entah kenapa. Apakah betul tempat ini memang tidak cocok denganku? aku tidak mau menjadi orang yang menutup diri dan menutup kuping.. atau bahkan lebih ekstrem lagi tercap "NPD".. I don't want it... Tapi aku juga lelah berpura-pura.. dan aku juga tidak tahu harus merespon seperti apa, berkata seperti apa.. agar aku terlihat "menyatu" dengan lingkungan. Maafkan aku Tuhan, tolong, bantu aku ya?

Tuhan,

Saat ini aku seringkali berkhayal tentang bagaimana kalau aku resign nanti, kata-kata perpisahan seperti apa yang akan aku ucapkan di hari akhir kerja disini.. aku tidak tahu. Apakah pemikiran ku tepat? tapi ku rasa, aku cukup yakin untuk ini.

Tuhan, 

Meskipun aku sudah cukup yakin dengan rencanaku 1 tahun ke depan, mohon bimbing aku. Mohon tunjukkan aku jalannya. Mohon permudahkan jalannya, dan ridhoi jalanku selanjutnya. Aku mohon. Berikan aku kehidupan yang lebih baik, layak dan bahagia..

Tuhan, 

Aku berharap.. diriku senantiasa sehat, begitu juga orang-orang terdekatku. Jujur paling dalam, saat ini aku paling takut ditinggalkan mereka.. aku belum siap Tuhan untuk itu.. jadi, ku mohon.. jagalah selalu orang-orang terdekatku, orang-orang yang ku sayangi.. dan orang-orang yang menyayangiku.. berikan mereka kesehatan dan keselamatan selalu.. ini adalah hal yang paling ku inginkan sejauh ini. Aku mohon.

Tuhan,

Tolong kuatkanlah diriku. Tolong bimbing aku menjadi manusia yang tidak menyakiti hati orang lain. Tuntun aku untuk senantiasa menjadi pribadi yang tenang dan bisa menahan amarah dengan cukup pantas. Dan Tuhan,.. ku mohon.. dekatkanlah orang-orang baik kepadaku.. buatlah kami bisa jadi teman satu sama lain.. buatlah kami mendekatkan kepada kebaikan. Dan tentunya.. orang yang bisa mengajariku terhadap nilai-nilai penting dalam hidup, nilai yang bermanfaat untukku, yang bisa menjadikanku pribadi yang lebih baik lagi. 

Tuhan,

Mudahkanlah aku dalam bersosialisasi. Buatlah aku menjadi pribadi dimana aku bisa membuat nyaman untuk orang lain bisa mengobrol denganku, bercerita denganku.. Aku mohon maaf apabila saat ini kapasitasku untuk menjadi pribadi seperti itu teramat jauh.. Aku juga tidak tahu mengapa.. aku bingung, aku butuh bantuan-Mu.

Tuhan,

Aku mohon maaf, kalau aku sudah mengecewakan banyak orang. Membuat banyak orang bersedih, membuat orang lain terluka atas perkataan dan tindakanku selama ini ataupun baru-baru ini. Mungkin terasa agak tidak elok aku membubuhkan kata "kalau" disini.. tapi aku juga ragu bagian mana aku bersalah.. tolong bimbing aku.

Baik, aku akan pertegas disini,

Aku pasti sudah begitu banyak berbuat salah terhadap orang lain, terutama orang-orang disekitarku, bahkan di keluarga inti-ku sendiri. Aku mohon maaf..

Aku mohon maaf kepada diriku pribadi, yang bahkan saat ini pun karena aku merasakan lukaku begitu banyak, dan rasa kesepianku yang menghantarkanku bahwa tidak ada orang yang mengerti diriku.. aku menolak untuk mengingat bagian, bab, sub bab mana aku menyakiti hati orang lain. Aku mohon maaf Tuhan.. untuk saat ini aku begitu takut untuk mengingatnya.. karena aku belum memiliki keberanian untuk menambahkan lukaku sendiri saat ini. Dan saat ini, aku menjadi pening.. tidak apa-apa Yunita.

Menulis ini menghantarkanku kepada perasaan lebih lega dan merasa "menang". Mengapa menang? karena pada akhirnya aku bisa memberanikan diriku untuk meluapkan segala pikiranku yang telah lama aku pupuk, yang telah lama aku rencanakan untuk ku tulis sebagai refleksi diriku. Meskipun hari ini suasananya tidak seperti yang aku harapkan, namun aku bersyukur aku bisa menuntaskan tulisan refleksiku sebagai bagian dari perjalanan hidup 25 tahun yang telah aku lalui. Aku merasa menang karena telah mewujudkannya hari ini, meskipun tidak sempurna, meskipun tidak begitu khidmat seperti yang ku bayangkan. Namun aku tetap bersyukur, karena aku merasa bebas.. aku merasakan aku bebas melontarkan segala apapun yang aku pikirkan melalui tulisan ini, melalui media blog ini. Terima kasih Yunita.

Terima kasih,

Yunita,

Selama 25 tahun ini kamu sudah cukup banyak berjuang untuk hidupmu sendiri. Meski tidak sempurna, meski banyak kesusahan, kesedihan dan kekecewaan.. kamu sampai di titik dimana kamu bisa menghasilkan kerja kerasmu sendiri. Bahkan bisa memberikan sedikit hasil kerja keras tersebut setiap bulannya kepada Mama dan Bapak. 

Terima kasih,

Yunita,

Kamu bisa mewujudkan cita-citamu untuk bisa bekerja di BUMN/PNS. Cita-cita yang memang tidak terlalu tinggi, tapi merupakan loncatan besar di keluarga kecilmu, permulaan yang baik setelah kamu melewati masa-masa belajarmu dengan total 16 tahun (kurang sedikit).

Terima kasih,

Yunita,

kamu bisa menyelesaikan skripsimu dengan amat baik, semangat, tepat waktu, bahkan lebih singkat dibandingkan jangka waktu 4 tahun. Terima kasih untuk tidak menyerah terutama dalam menunggu dosen pembimbing yang bahkan kamu sendiri sampai menunggu 4 jam di kampus demi bisa bertemu dengannya. Seperti kata-katamu sebelumnya, kamu mungkin bukanlah orang yang pandai berhubungan sosial, termasuk berhubungan dan menciptakan suasana yang akrab dengan dosen, tapi kamu punya semangat. Kamu memiliki semangat untuk mencapai tujuan kamu selama ini.

Terima kasih,

Yunita,

Kamu sangat menghargai diri kamu. Kamu bahkan mengerti bagaimana karakter dirimu, terutama apa yang kamu butuhkan dan bagaimana caramu mendapatkannya.. Semoga tetap menjadi pribadi yang rendah hati dan dermawan, ya.


Terima kasih Yunita, diriku. Sosok yang paling ku sayangi. Ehe.


Komentar