Banyak kerasnya perdebatan,
Tentang hal-hal yang sarat dengan ambiguitas menekan,
Semakin lantang untuk menunjukkan siapa yang paling benar,
Anotasi-anotasi yang dipupuk hingga mengakar,
Memangnya kita siapa?
Layaknya di atas panggung hakim yang memutus ini benar dan ini tidak?
Mereka salah, kita benar?
Bahkan hakim sekalipun tak lepas-lah paya kekeliruannya dalam memutus.
Sekali lagi, memangnya kita siapa?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hidup dalam masyarakat yang heterogen, memberikan banyaknya pengalaman-pengalaman unik yang datang dalam hidup kita. Acapkali pengalaman-pengalaman yang berbeda ini turut memperlebar jurang ketidaksamaan antara satu entitas dengan yang lain. Begitu banyak terjadi celah ruang untuk diperdebatkan dan lebih parahnya lagi hujan akan penghakiman.
Sekilas menapak tilas balik, saat masa putih abu-abu begitu cerianya, saya merasakan jiwa saya yang begitu sempit. Sempit karena, dengan banyaknya algoritma pendapat yang belum saya pelajari lebih jauh, dengan gambaran kecil saja sudah cukuplah saya untuk bisa menjustifikasi ini salah, ini keliru, ini SESAT!
Saat itu, saya begitu yakinnya, bahwa kebenaran cuma ada satu yaitu kebenaran yang selama ini saya dengar dan saya lihat.
Menyebut tokoh agama yang tidak mewajibkan jilbab dengan sesat,
Mengucap para aktivis feminis dengan sebutan liberal dan sekuler,
Memandang dengan pandangan yang begitu buruk pada manusia-manusia lain yang saya rasa; mereka kok gitu? itu dilarang loh? kita kan sudah diwajibkan berjalan sesuai fitrah kita baik sebagai laki-laki dan perempuan? dan diakhiri dengan kata "mereka itu dosa banget!"
BAAAH!
Sangat sempit bagaimana saya memberikan jalan alur pikir diri saya dan begitu buruk bagaimana saya menggunakan akal dan perasaan saya. Semoga Allah mengampuni diri saya.
Menginjakkan diri di bangku perkuliahan, membuat saya begitu banyak bertemu dengan orang-orang, melihat sendiri bagaimana hal yang saya tidak anggap wajar dahulu dan menerima begitu banyak suara hasil olah pikir mereka akan suatu hal. Sedikit banyaknya, hal itu membuat saya menjadi merenungkan kembali anti-tesis bagaimana saya bisa mengolah diri saya dan kepada siapa saya harus berpihak.
Sampai saat ini, saya masih terus mengasah, memperkecil lubang kebodohan dan kecerobohan dalam berpikir. Saya mulai belajar memahami, mengapa seseorang melakukan ini? mengapa mereka bisa berpikir itu? dengan bebas dari justifikasi.
Faktanya, hal ini menumbuhkan bibit empati yang sedikit banyak muncul dalam diri saya. Saya merasa lebih bisa untuk menghargai orang lain, melepaskan pandangan secara terpisah antara perbuatan yang dilakukan dengan dirinya sebagai manusia yang harus tetap berhak untuk mendapatkan hak-haknya di masyarakat.
Semua itu terus saya bangun atas dasar bahwa keyakinan dan kepercayaan saya pada agama saya yang sangat mengutamakan kedamaian, keadilan, cinta, kasih sayang yang tulus sesama manusia. Tidak ada artinya melakukan ritual ibadah yang begitu khusyuknya tetapi tidak dibarengi dengan menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi sesama manusia, semasih mereka tidak merugikan hak-hak orang lain dan juga meluluhlantahkan pondasi norma.
Seperti para transgender yang harus tetap hidup layak, memberikan ruang kepada mereka untuk berhubungan sosial dengan yang lain secara sehat, tidak mengkerdilkan mereka untuk memenuhi hak beragamanya begitu juga dengan orang-orang yang termaginalisasi lainnya.
Tak menyebut tokoh agama yang tidak mewajibkan penggunaan jilbab pada perempuan sebagai tokoh yang sesat, sebab pada dasarnya adanya perbedaan pendapat tentang bagaimana batas aurat perempuan itu ada, seharusnya tidak menafikkan bahwa kebenaran itu hanya satu saja, bisa jadi lebih.
Begitu juga dengan para aktvis feminis yang tidak dapat kita generalisasikan keberadaanya, sebab feminisme pada faktanya jugalah terbagi-bagi macam pandangannya. Bentuk dan karakter feminisme berbeda-beda berdasarkan konteks geografisnya masing-masing. Seperti halnya feminisme yang ada di amerika dan juga inggris. Setidaknya, pemahaman ini yang coba saya baca dari buku Feminisme, femininitas, dan budaya populer karya Joanne Hollows.
Ada nilai-nilai baik yang dibawa oleh para feminis yang dapat memuliakan dan memperkuat posisi perempuan yang seringkali lemah di dalam masyarakat. Diantaranya mereka berjuang untuk menuntut kesetaraan upah yang seringkali fakta di lapangan menunjukkan bahwa upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki padahal dengan beban kerja yang sama, menuntut kesetaraan akses terhadap pendidikan dan kesetaraan kesempatan kerja, dan menuntut untuk diberi ruang aman atas tindak kekerasan seksual serta kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada perempuan.
Kalau ilmunya baik dan bermanfaat kenapa tidak dan kenapa jangan? berangkat dari Al Quran dan Hadist itu harus, tapi apa salahnya bila kita mencoba memberikan kemudahan konsep kehidupan dengan istilah yang lebih mengerucut? sebab berangkat dari Al Quran dan Hadist masih-lah begitu luas maknanya. Jadi apa salahnya? selama hal-hal tersebut tidak menyalahi koridor larangan yang telah ditetapkan-Nya?
Pandangan kebenaran tidak cuma satu semakin menguat di dalam diri saya, ketika saya membaca sebuah kisah adanya perbedaan pandangan pada zaman Rasulullah SAW silam.
Kala itu Rasulullah SAW memberikan komando pasukan untuk mendatangi Bani Quraizhah dengan berucap “Barangsiapa mendengar dan taat, jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah,”.
Komando tersebut memberikan pemahaman yang berbeda-beda diantara pasukan yang masih melakukan perjalanan ke Bani Quraizhah ketika waktu sholat ashar sudah tiba. Sebagian dari pasukan kaum Muslimin tidak melaksanakan shalat Ashar. Bahkan sebagian riwayat mengatakan, ada di antara mereka yang melaksanakan shalat Ashar setelah Isya sesampainya di perkampungan Bani Quraizhah. Sedangkan sebagian yang lain melaksanakan shalat Ashar di perjalanan. Mereka berpandangan bahwa ungkapan Nabi yang mengatakan, “Jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah,” dipahami agar mereka bersegera menuju perkampungan Bani Quraizhah sebelum waktu sholat ashar lewat.
Kita bisa melihat gamblang perbedaannya kan? secara sederhana, pandangan yang pertama memahami instruksi Rasulullah SAW secara tekstual dan pandangan yang kedua memahami instruksi Rasulullah SAW secara kontekstual. Dan bagian paling pentingnya adalah, siapa kemudian yang benar?
Respon Rasulullah SAW atas kejadian ini adalah beliau tidak mempermasalahkannya. Beliau mendiamkan dan tidak menyalahkan salah satu dari dua pendapat itu. Beliau menghormati perbedaaan itu. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa dalam memahami teks, baik Al-Qur’an maupun Hadits, peluang perbedaan pendapat itu memang terbuka.
Kalau peluang terbuka itu ada dan tetap harus dihormati mengapa kita sendiri yang menutup pintu keterbukaan perbedaan pendapat yang ada? Dengan niat baik dan cara yang baik, sungguh saya yakin itulah bentuk daripada kebenaran.
Kesemuanya harus dicari tahu,
Bukannya belum diramu tetapi sudah berisik menderu,
Melakukan pencarian secara holistik dan tidak parsial,
Agar terhindar dari pandangan yang hanya terkesan membual,
Ikhtiarkan dengan akal,
Dan sandarkan dengan iman.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari kedua selepas Hari Hijab Sedunia sebagai tanda kemerdekaan perempuan,
Pukul separuh lewat, melewati terik ketepian.
Komentar
Posting Komentar