Selamat Hari Guru, Punggawa Penjuru!

 


“A good teacher is like a candle burning, it consumes itself to light the way for others.”

Seorang guru yang baik layaknya seperti sebuah lilin menyala, ia menghabiskan dirinya sendiri untuk menerangi jalan bagi orang lain. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekilas kalimat itu mungkin terdengar enyuh dan penuh makna.

Tapi, saya sangat tidak sepakat dengan kalimat di atas. 

Mengapa?

Karena kalimat tersebut menitik beratkan pengorbanan seorang guru, seorang pendidik yang meluapkan energinya bagi orang lain untuk bersinar, kendatipun ia tak mendapatkan apapun. 

Daripada menyebut kalimat itu penuh makna, saya akan menyebutnya sebagai kalimat berbahaya yang akan menumbangkan entitas guru itu sendiri.


Sekarang, 

coba bayangkan, 

Saya akan mengajakmu melangkah lebih jauh lagi,

Keberadaan dampak dari nyalanya lilin itu sementara,

Sebab lilin sendiri memiliki limitnya untuk menyinari ruang,

Dari bentuknya hingga volume yang mengakibatkan lilin itu kemudian pada akhirnya redup serta hilang sirna-lah sudah kecahayaan yang ditimbulkannya itu,

Lilin-lilin itu terus berubah wujudnya dari yang padat menjadi cair,

Sebab energi terus menurus dikuras mengalir.


Sangat tidak kompatibel bukan?

Apabila majasi tersebut dipergunakan untuk menggambarkan sosok guru atau pendidik,

Yang kita sendiri tahu bahwa kebermanfaatan pengajarannya sepanjang masa alias tak pernah redup,

Juga tidak tepat pula bahwa guru atau pendidik hanya menguras energinya, mengikis tanpa mendapatkan apapun,

Sebab guru, sejatinya juga terus mendapatkan pembelajaran dari objek muridnya.

 "Guru adalah murid dari guru lainnya"

Pandangan di atas membawa kepada paradigma bahwa posisi antara guru dan murid secara kaku sebetulnya tidak ada, karena keduanya sama-sama memberikan umpan balik, memberikan pengajaran satu kepada yang lain dan seterusnya. Apabila paradigma ini terus coba dibangun, diskusi dan kolaborasi tidak akan pernah senyap, siapa yang akan mengamuk bila dirinya ternyata tahu bahwa perannya bukan hanya sebagai objek tetapi juga subjek?


Lebih lanjut lagi,

Sampai sekarang saya teringat perkataan yang keluar dari seorang punggawa budaya dan adat,

Bapak Sujiwo Tejo pernah berkata "Kita sekolah untuk apa? untuk cari ilmu? BUKAN! zaman sekarang ini, di zaman teknologi ini, ilmu pengetahuan itu bisa kita cari sendiri dengan sekali klik! lalu, kita berangkat ke sekolah apa yang kita cari? berkah! berkah dari seorang guru itulah yang kita cari! dengan adab dan akhlak."

Menurut saya, pernyataan itu sungguh luar biasa. Membuat saya merenung dan lebih belajar untuk bisa menghargai dan menghormati seorang guru atau pendidik. 

Kepenulisan tentang sedikit membedah keberadaan guru dengan posisi saya yang belum menginjakki kedudukan itu secara formal atau normatif, mungkin terkesan omong kosong, tahu apa saya tentang keberadaan dan perannya? tak apalah.


Paruh waktu terus menderu,

Memanggil nama-nama kemudian siapa yang akan meramu,

Meramu ilmu, meramu kalbu,


Pada akhirnya saat yang tepat tiba,

Kita semua akan menjadi pendidik para ananda bumiputra,

Menyambut kedatangannya dengan sangat bahagia,


Bersiaplah,

dan berbekallah,

Sebab kesemua itu butuh ilmu,

Bukan aplikasi semu.


Selamat Hari Guru!

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari Guru ke Tahun Tujuh Puluh Enam,

Pukul sembilan, melampaui malam.





Komentar